Cerita ini adalah cerita pribadi mengenai rumah yang aku beli tahun 2003 di belahan ujung timur Kab. Bogor. Ya … ini rumah sederhana tipe 36/128 dan model barakan alias satu dinding berdua (bukan hanya makan sepiring berdua saja yang ada, dinding juga berdua :) ), tetapi home is where the heart is jadi meskipun sederhana dan jauh dari mana-mana tetap menjadi tempat paling favorit. Meskipun kadang ke hotel berbintang yang luas kamarnya seluas rumahku dan tidur di tempat tidur yang nyaman, empuk dan tidy tetapi kasur lusuh kamar rumah/depan tv tetap tempat tidur favoritku. Katrok …. :)
Lha bagaimana tidak, kenyamanan hotel itu sebenarnya semu belaka. Kamar hotel yang lux juga tidak bisa dinikmati karena klo di hotel pasti dalam rangka training/workshop atau kerja. Habis kegiatan seharian, masuk kamar tinggal capek dan tidur … mak … bleg … tidur … bangun pagi-pagi lagi trus kegiatan lagi. Jadi ya … ga bisa menikmati kamar hotel. Apalagi klo di luar negeri, habis workshop/training langsung ngluyur jalan-jalan, lihat sesuatu yang baru dan balik hotel udah larut malam … sama … tinggal mak … bleg … tidur. Diberi kamar hotel berbintang 4 juga percuma alias sayang bayarnya. He … he … he … tetapi tetap bersyukur, coba klo diberi kamar hotel melati …. tambah sengsoro tho ….

Kembali ke (laptop) hal membeli rumah.

Yang pertama, waktu beli rumah developer ga bilang hal-hal negatif mengenai keadaan sosio-cultural sekitar perumahan. Maklum kita dari desa ga ngerti adat kebiasaan Jakarta dan sekitarnya. Yang pertama membuat esmosi dan shok adalah ketika bawa barang dari kos pindah ke rumah baru. Waktu colt yang membawa barang datang, langsung dikerubungi kuli angku barang, jumlahnya ga tanggung-tanggung belasan kali. Wah … wah … wah … apaan ini pikirku. Ternyata mereka memaksa untuk menurunkan barang dan harus mereka yang menurunkan, kata mereka. Aturan dari mana nih … harus mereka yang merasa paling berhak untuk menurunkan. Jika mereka bilang baik-baik misalnya “Bapak butuh bantuan menurunkan barang?” mungkin masih enak dan kita juga mungkin ga keberatan, tetapi jika sudah ada “pemaksaan” jadinya dongkol. Nilai uang tidak seberapa, tetapi jika ngasihnya dengan dongkol dan perasaan dipaksa jadinya ya mangkel, merasa tidak adil. Jangan mimpi membasmi mafia peradilan, ketidakadilan didepan mata saja kita ga berdaya. Sampai sekarang juga masih begitu kalau kita beli barang yang diantar mobil dari toko pasti dikerubungi kuli angkut. Kecuali klo nganternya tengah malam atau pagi-pagi banget sebelum jam 6, baru aman. Aku ga habis pikir kenapa sampai begitu soalnya di Jogja ga ada yang begitu, mungkin karena lapangan pekerjaan atau memang inginnya kerja ringan dapat uang banyak ?
Jadi tanyakan kepada developer, apa disitu seperti ini juga. Soalnya lama-lama naik darah sih, klo udah ada penyakit darah tinggi bisa langsung kumat tuh apalagi pas renovasi rumah kita harus beli banyak material bangunan dan setiap material bangunan datang kuli datang juga … hah … :( .

Yang kedua, kualitas bahan bangunan. Di daerah saya susah sekali cari pasir yang pasir sir, pasti dicampuri tanah. Jadi waktu diaduk dengan semen jadinya aneh dan tentu saja ga kuat. Contohnya adalah batako, setelah terkena panas dan hujan tidak sampai tiga tahun udah mak … prul … kalo dipegang. Genteng cor juga begitu, pada ancur sendiri padahal belum ada empat tahun :( . Memang klo dibandingkan waktu di Jogja bisa stress sendiri. Belum lagi kayu yang dipakai untuk atap rumah. Jika developer Anda memakai rangka atap baja ringan bersukurlah Anda. Rangka atap kayu saya udah pada bubukan semua dan bahkan ada yang sudah patah blandar-nya padahal baru 7 tahun ketahuannya, patahnya ga ngerti. Bayangkan kita sampai rubuh, uang masih bisa dicari, tetapi nyawa siapa yang jual ? Demi keuntungan yang banyak memakai bahan kayu kualitas “tobat” (begitu kata Eyang Harno) tidak berpikir mengenai keselamatan dan keamanan calon penghuni rumah yang penting untung.

Blandar patah - sebelah kiri

Blandar teteren

Jendela teteren

Hal ini sudah lama saya curigai karena rumah yang tidak dihuni genteng pada ancur dan sampai ambruk. Dan benar saja waktu saya minta tukang memeriksa wah patah ….. huh … :(
Baja tulangan beton juga perlu mendapat perhatian, karena waktu buka beton ternyata kawat yang dipakai ukurannya kecil dan jaerak antar ikatan juga lebar. Banyak yang bilang memakai kawat baja tulangan beton banci, menurutku sih tidak begitu karena memang ukuran kecil itu ada, tetapi disalahgunakan atau dimanipulasi yang ukuran 8 dibilang 10 dan lain sebagainya. Jadi yang ada adalah penipuan.

Kesimpulan, jangan tergiur harga murah saja periksalah minimal hal-hal diatas karena sama saja kita buat rumah baru kalo harus renov ganti semua.

Semoga bermanfaat.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.