KRL/KRD … kapankah nasibmu berubah?

September 23, 2009

Bangkok BTS queue [640x480]

Perasaan sejak aku menginjakkan kaki di daerah Serpong KRL ekonomi/KRD tidak banyak berubah, masih penuh sesak dengan pedagang segala aya mulai dari air minum, aksesoris rambut, kartu GSM, penjual buku, aneka buah, permen (beli permen dapat karet), rokok, tahu sumedang (bonus cabe), bingkai dan macem-macem lagi. Yang lebih hebat harganya yang super miring. Beberapa stasiun memang berubah lebih baik, peron ditinggikan, pedagang sudah ditata lebih baik; KRL sekarang sudah ada KRL AC ekonomi dan KRL AC express yang genit karena tidak mau berhenti di Palmerah kalau sedang ke Serpong atau tak mau berhenti di Rabun kalau ke Tanah Abang padahal berhenti di Pdk Kranji atau di Jombang (bedane opo aku ra ngerti …๐Ÿ˜ฆ padahal banyak penumpang dari dua stasiun tersebut yang pingin naik), tetapi masalah klasik yaitu rasa nyaman masih belum sepenuhnya dapat dinikmati. Ukuran nyaman mudah kok, jika kebersihan, ketepatan waktu (punctuality), frekuensi kereta, harga tiket, dan ketertiban dapat dikelola dengan baik saya pikir sudah cukup. Harga mahal dikit ga apa-apa asal dapat diandalkan. Jer basuki mawa bea.

Dari pengalaman beberapa negara yang pernah aku singgahi, masalah kereta api untuk perkotaan Jakarta memang masih ketinggalan padahal negara tersebut keretanya mirip banget dengan KRL AC kita dan tidak ada kelas kereta semua sama sehingga memudahkan manajemen karcis. Pokoknya beli karcis, jika karcis harian silakan masuk dan silakan naik kereta sepuasnya kemana saja asal masih dalam area operasi. Harga juga cukup murah misal metro Madrid cuma 1 Euro dan itu dapat digunakan untuk naik bis juga jadi ga perlu beli ticket lagi, di Stockholm juga satu ticket harian/bulanan dapat dipakai untuk naik T-Banna dan bis sepuasnya dalam zona tertentu.

Bentuk karcis kereta Eropa juga sederhana cuma selembar kertas kecil dengan magnetic code untuk identifikasi, jika Singapore dan Thailand masih agak lebih eksklusif. Penjaga cuma perlu di pintu keluar/masuk saja, tidak perlu keliling memeriksa karcis di dalam kereta yang buang-buang man power saja.

Pernah diuji coba memakai kartu elektronik di Jurusan Serpong – Tanah Abang tetepi gagal, katanya merugi sekian juta per hari/bulan dari tiket yang tidak kembali; karena waktu diberlakukan uji coba tersebut penumpang masih bisa pakai kartu elektronik atau karcis biasa sehingga karcis yang seharusnya dikembalikan atau di-refill tidak kembali atau dibuang saja. Akhirnya pintu sensor kartu ngangur; tidak tahu apakah masih berfungsi. Dalihnya masalah tiket kereta api sangat kompleks, karena kereta yang berbeda-beda kelas tiket, kereta luar kota memakai jalur yang sama dengan kereta dalam kota dan lain sebagainya. Tidak dipikirkan measure apa saja yang harus dikendalikan agar uji coba berhasil.

Penjual juga tidak ada karena ada aturan jika menjual barang secara tidak resmi diarea stasiun akan dikenakan denda 2000 Baht di Thailand. Bandingkan dengan kita, yang bersih cuma di KRL AC, padahal aturan larangan itu diundangkan yang berarti mempunyai kedudukan hukum yang sangat tinggi, tetapi undang-undang tinggal a piece of paper; who cares.

notice [320x200]
Kalau negara lain bisa, kenapa kita tidak?

Sebagai pengguna kereta sejati, tentunya kita semua merindukan suatu alat transportrasi kereta yang cukup murah, tepat waktu, frekuensi 5 menit sekali, bersih dan aman. Sebagai gambaran tiket harian BTS (Bangkok) 120 Baht (sekitar Rp. 36.000) atau jika eceran jarak terpendek 15 Baht (sekitar Rp. 4500) setiap penambahan dua stasiun tambah 5 Baht, sedangkan di Madrid untuk satu hari 1 Euro (sekitar Rp. 15.000) tidak ada karcis eceran. Tidak ada yang bawa barang dagangan dalam kereta metro/BTS.

Aku jadi ingat masa-masa “jaman ora enak” ketika belum ada KRL AC, adanya cuma KRL ekonomi atau KRD pasti mandi keringat apalagi naik KRD wis sumuk, desak-desakan tambah asap rokok tambah dilangkahi penjual, lap keringet pokoke komplit. (Sekarang udah agak mending, KRD udah tidak terlalu desak-desakan lagi). Trus seringnya salam tempel sama kondekturnya, kalo aku perhatikan sih saku kondektur pasti mak pethuntuk dan dalam banget untuk menampung salam tempel ๐Ÿ™‚. Itu duluuuuuuu lho ….. sekarang tidak tahu, semoga tidak๐Ÿ™‚

palmerah_

Ayo, PT. KAI berubahlah …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: