Jalan kenangan …

Januari 13, 2013

Sudah lama saya tidak jalan lewat kolong fly over palmerah sejak pindah rumah ke gunung sindur nun jauh di sana. Ternyata tidak ada yang berubah, masih macet dan, seperti kolong-kolong fly over lain, tidak terawat, banyak tempelan iklan liar dan sadis bagi penyeberang karena dibutuhkan nyali untuk bisa menyibak deru motor dan mobil untuk sampai disana. Memang salah yang nyeberang juga sih, lha wong ga ada zebra cross kok nekad nyebrang🙂, tapi tunggu dulu di dekat palang ada zebra cross lho cuma sudah tidak kelihatan🙂.
Menyeberang di sini jadi ingat waktu pertama datang Jakarta (sapa suruh datang Jakarta …), waktu mo nglamar kerja. Dengan modal nekad dan bingung-bingung, turun dari bis 213 di Slipi dan nyebrang di sini. Sambil berpikir keras bagaimana cara melewati motor dan mobil, habis ngeri banget. Maklum dari kota kecil yang tidak pernah lihat motor dan mobil sepadat dan selaju seperti di sini dan masih kagak jelas baru sampai Jakarta. Setelah berhasil nyebrang mengikuti orang-orang yang nyebrang, berjalan menyusuri bawah kolong, tidak ada trotoar dan jarak antara mobil dan saya seperti cuma setelapak tangan, weng …. weng …weng …, tambah ngeri dan sadis saja. Rasanya sudah “nglokro” (nelangsa), urip kok mesakke (kasihan) banget harus begini nanti setiap hari. Apalagi dari dalam bis dari pagi (jam 5.30) sudah lihat orang Jakarta di setiap pojok jalan dan halte sudah ramai nunggu kendaraan untuk kerja, rasanya beda banget dengan Jogja yang hidup anyem tentrem dan santai, membuat dag – dig – dug membanyangkan someday, somewhere and somehow I’ll become one of them. Sadis … sungguh sadis …

Cuma tekad dan nekad yang membuat saya bisa bertahan. Tekad untuk terus maju, mandiri tidak bergantung dari orang tua dan nekat karena cuma berbekal ijazah, ga pernah keluar jogja apalagi langsung terjun ke jakarta yang kata “berita” penuh dengan cerita kriminal, kriminal dan preman. Ayah dan Ibu bilang “Sing ngati-ati Le nang Jakarta akeh godane, wong tuwo ora iso nyangoni opo-opo, mung iso nyangoni kepinteran lan dongake mugo-mugo opo sing dadi penggayuhanmu biso kelakon.”. Terima kasih Bapak/Ibu atas doamu, doamu lebih dari segalanya. Sudah saatnya aku tidak menjadi bebanmu lagi.

Yah begitulah sepenggal cerita awal saya di terdampar Jakarta, bukan cerita indah tetapi memberi kesan dan selalu teringat. Seperti nyanyiannya Padi bahwa “hidup tidak selamanya indah”, kadang di bwah kadang di atas, tapi hidup harus diperjuangkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: